Review,  Traveling

Wanita Flores dan Cerita di Balik Kain Tenun NTT

Andai kain tenun ini lebih dihargai nilainya, mungkin wanita-wanita muda disini akan tertarik meneruskan warisan menenun, dan tak pergi mengadu Nasib Tergantung Tetangga (NTT).

Mungkin itulah kalimat yang sedikit menggambarkan sebagian kondisi wanita di Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini.

Masyarakat NTT menggandeng sterotipe yang sangat beragam. Ada yang mengatakan NTT: nasib tidak tentu, nasib tergantung tetangga, nanti Tuhan tolong. Istilah-istilah ini dipakai ditengah masyarakat dalam menggambarkan kompleksitas persoalan yang ada.

Setiap predikat ini disisipkan ketika melihat pada persoalan yang melilit masyarakat NTT. Kemiskinan, human trafficking, degradasi moral dan lain sebagainya.

Adapula suara hati seorang Heni Yang terlihat dari raut wajahnya, wanita asli Flores ini gencar menggerakkan misi keadilan, ekonomi dan budaya melalui pelestarian Kain Tenun khas NTT, melalui sebuah organisasi non pemerintah yang berbasis di Labuan bajo Yang berdiri sejak 2005.

Sambil memperkenalkan kepada kami rombongan media dan blogger jalan-jalan ke Labuan Bajo yang difasilitasi oleh JNE tentang perjalanan panjang sebuah Kain tenun Flores, Heni menularkan semangat untuk mengajak kita lebih menghargai nilai-nilai arti dibalik sebuah barang yang memiliki ikatan kuat dengan budaya, ketimbang hal lain misalnya popularitas seperti kain tenun Flores .

“Yang membuat kami sedih, dihargainya gak seberapa, padahal banyak sekali cerita panjang yang jauh lebih berharga dari itu semua,” katanya.

Proses menenun kain NTT / dokpri derifadilah

“Penenun sekarang sudah semakin sedikit, di wilayah kami anak muda lebih tertarik mencari penghasilan keluar daerah, bahkan keluar negeri. Selain dampak pengaruh arus informasi, lapangan pekerjaan juga sedikit,” sambung Heni.
Bayangkan, untuk proses pembuatan paling cepat saja jenis selendang kain tenun Manggarai ukuran 20cm memakan waktu 3 Hari, dan dihargai 100 ribu rupiah.

Belum lagi beredar pula kain tenun Flores produk konveksi yang berasal dari wilayah luar NTT seperti pulau Jawa dan Bali, yang kemudian ditawarakan kepada para wisatawan yang berkunjung ke wilayah NTT, parahnya lagi diklaim merupakan hasil tenun asli lokal. Hal tersebut makin membuat mantap rasa ingin meninggalkan warisan menenun dan lebih memilih pergi mencari penghidupan layak di negeri seberang.

Memang, dulunnya wanita Flores menenun sebagai bagian dari kegiatan rutin di dalam rumah untuk mengisi waktu ketika sang pria mencari nafkah diluar rumah. Tapi, kini jaman telah berubah, wanita Flores lebih tertarik tidak di dalam rumah. Emansipasi disini sangat berdampak terhadap budaya.

Andai lebih dihargai, wanita disini mungkin tidak akan pergi keluar yang kemudian muncul masalah isu human trafficking yang kini kian melekat. Bahkan kompas.com sempat mengangkat ulasan kenapa NTT terus saja panen jenazah TKI dari Malaysia pada 1 april 2018 silam.

Dalam keterangan pers dari Humas Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di Kupang tanggal 23 November 2017,
Menteri Yohana S Yembise mengatakan Nusa Tenggara Timur masuk dalam zona merah human trafficking atau perdagangan manusia. “Provinsi Nusa Tenggara Timur selalu menjadi perhatian khusus kami soal perdagangan manusia karena sudah masuk dalam zona merah,”

Jika melihat laporan BP3TKI Kupang Yang dirilis tahun lalu, dalam data lima tahun terakhir kematian TKI/TKW asal NTT terus meningkat. Tahun 2013 sebanyak 31 orang meninggal dunia (11 orang TKI/TKW legal dan 20 orang illegal), Tahun 2014 sebanyak 21 (8 orang legal dan 13 orang illegal) Tahun 2015 sebanyak 28 orang (5 orang legal dan 23 orang illegal) Tahun 2016 sebanyak 49 orang (7 orang legal dan 42 orang illegal) dan Tahun 2017 sebanyak 63 orang (8 orang legal dan 55 illegal). Kita makin akan menduga-duga berapa jumlah korban tahun 2018?

Meskipun kain tenun bukan satu-satunya sumber karya penghasilan, tapi inilah yang dibanggakan. Untuk itu, peran kita sebagai saudara sebangsa harus terus mendorong industri lokal khususnya produk yang berkaitan dengan nilai-nilai seni dan budaya setempat.

Kebanggaan akan produk warisan leluhur seperti kain tenun NTT ini harus tetap dijaga dan dilestarikan, tidak hanya dilihat dari sekedar nilai ekonomi. Sehingga masyarakat khususnya wilayah NTT dapat juga tersejahterakan.

Apabila berkunjung, kita jangan menjadi wisatawan yang hanya menikmati keindahan alam Flores seperti Taman Nasional Komodo, tapi kita juga harus memberikan kontribusi kepada masyarakat setempat dengan memberikan harga nilai ekonomi lebih untuk kain tenun Flores.

Selain kepada wisatawan, beberapa pengerajin kain tenun NTT juga sudah mulai memasarkan produknya melalui sosial media seperti Instagram dan Facebook. Dan proses pengirimannyapun kini lebih mudah dan cepat karena sudah terdapat 45 titik layanan JNE yang tersebar di seluruh NTT.

 

artikel ini juga tayang di Kompasiana :

https://www.kompasiana.com/derifadilah/5c4a69c7c112fe0dad049a12/wanita-dan-dibalik-kain-tenun-ntt-kini

Facebook Comments